Mari Tingkatkan Sedekah.!!!!

Bukan cuma usaha. bukan cuma doa. tapi belilah impian itu dengan usaha, doa , dan amal. salah satu amalnya, sedekah

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Header

Minggu, 15 November 2009

Cara- Cara Bersedekah.

Ini pendapat Joe Vitale, penulis Spiritual Marketing. Juga pendapat banyak penulis lain yang dari pengalamannya mendapati bahwa semakin dia rela memberi (bersedekah) semakin banyak apa yang dia sumbangan itu kembali kepada dirinya dengan berlipat-lipat. Kalu dia nyumbang uang, maka (biasanya) akan datang uang. Kalau tenaga, maka akan kembali banyak bantuan. Kalau ilmu, maka akan kembali lebih banyak ilmu. Mereka menemukan bahwa “to give in order to get” adalah suatu hukum universal.

Sebentar, masih menurut orang-orang tersebut, hanya sedekah yang tulus lah yang akan menggetarkan semesta. Jadi tidak semua pemberian akan memberikan efek pengembalian yang diharapkan. Tentu saja ini bukan sok merasa lebih tahu tentang cara yang disukai Tuhan, ini adalah berbagi pengalaman apa yang mereka rasakan. Kisah-kisah mereka dikumpulkan dalam e-book The Greatest Money-Making Secret in History!. Silahkan di download sendiri ya.

Berikut ini cara bersedekah (menyumbang) yang mereka rasakan mampu menggetarkan spiritualitas mereka :

1. Bersedekahlah saat merasa ingin bersedekah, jangan sampai merasa terpaksa.

 Bila saat bersedekah kita justru merasa kesal, maka akan tertanam di bawah sadar bahwa bersedekah itu tidak enak, bahkan mengesalkan. Mungkin seperti kalau kita bayar parkir kepada preman di pinggir jalan. Ada perasaan terpaksa, tak berdaya, bahkan dirampok. Bukan karena besar kecilnya nilai uang, tapi rela tidaknya perasaan saat memberikan sumbangan. Kalau anda sedang suntuk, tunggu sampai hati lebih riang. Memberi dengan berat hati akan memberi asosiasi buruk ke alam bawah sadar.

2. Bersedekahlah kepada sesuatu yang disukai sehingga hati Anda tergetar karenanya.

Mungkin suatu ketika Anda ingin menyumbang yatim piatu, di waktu lain mungkin menyumbang perbaikan jembatan, mungkin pelestarian satwa yang hampir punah, mungkin disumbangkan untuk modal usaha bagi seorang pemula. Intinya adalah Anda sebaiknya menyedekahkan pada hal yang membuat perasaan Anda tergetar. Setiap orang akan berbeda. Seringkali seseorang menyumbang ke tempat ibadah, tapi hatinya tidak sejalan, hanya karena kebiasaan. Menyumbang yang tak bisa dihayati tak akan menggetarkan kalbu.

3. Bersedekahlah dengan sesuatu yang bernilai bagi Anda.

Kebanyakan wujudnya adalah uang, namun lebih luas lagi adalah benda yang juga anda suka, pikiran, tenaga, ilmu yang anda suka. Dengan menyumbang sesuatu yang anda sukai, membuat anda juga merasa berharga karena memberikan sesuatu yang berharga.

4. Bersedekahlah dalam kuantitas yang terasa oleh perasaan.

Bagaimana rasanya memberi sedekah 25 rupiah? Bagi kebanyakan orang nilai ini sudah tidak lagi terasa. Untuk seseorang dengan gaji 1 juta, maka 50 ribu akan terasa. Bagi yang perpenghasilan 20 juta, mungkin 1 juta baru terasa. Setiap orang memiliki kadar kuantitas berbeda agar hatinya tergetar ketika menyumbang. Nilai 10 persen biasanya menjadi anjuran dalam sedekah (bukan wajib), mungkin karena sejumlah nilai itulah kita akan merasakan ‘beratnya’ melepas kenikmatan.

5. Menyumbang anonim akan memberi dampak lebih kuat. 

Ini erat kaitannya dengan ketulusan, walaupun tidak anonim juga tak apa-apa. Dengan anonim lebih terjamin bahwa kita hanya mengharap balasan dari Tuhan (ikhlas).

6.Bersedekah tanpa pernah mengharap balasan dari orang yang anda beri.

 Yakinlah bahwa Tuhan akan membalas, tapi tidak lewat jalan orang yang anda beri. Pengalaman para pelaku kebanyakan menunjukkan bahwa balasan datang dari arah yang lain.

7. Bersedekahlah tanpa mengira bentuk balasan Tuhan atas sedekah itu.

 Walaupun banyak pengalaman menunjukkan bahwa kalau bersedekah uang akan dibalas dengan uang yang lebih banyak, namun kita tak layak mengharap seperti itu. Siapa tahu sedekah itu dibalas Tuhan dengan kesehatan, keselamatan, rasa tenang, dll, yang nilainya jauh lebih besar dari nilai uang yang disedekahkan.

Demikian berbagai hal yang berkaitan dengan prinsip bersedekah. Prinsip-prinsip ini sangat sesuai dengan petunjuk rasulullah Muhammad berkaitan dengan sedekah dan keutamaannya. Kalau tak salah, ada hadits yang menyatakan bahwa tak akan menjadi miskin orang yang bersedekah. Dijamin.

Sumber : http://1710purnomo.blogspot.com/2007/05/kekuatan-sedekah.html

Kekuatan Sedekah


Pengetahuan yang berguna untuk kita amalkan bersama

Assalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakatuh,

Diceritakan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Turmudzi dan Ahmad, seperti berikut :

Tatkala Allah Ta’ala menciptakan bumi, maka bumi pun bergetar. Lalu Allah menciptakan gunung dengan kekuatan yang telah diberikan kepadanya, ternyata bumi pun terdiam.

Para malaikat kehairanan akan penciptaan gunung tersebut. Kemudian mereka bertanya “Ya Rabbi, adakah  sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat daripada gunung ?”

Allah  menjawab, “Ada, yaitu besi” (kita mafhum bahwa gunung batu pun boleh menjadi rata ketika dikorek/bore  dan diratakan oleh bulldozer atau sejenisnya yang dibuat dari besi),

Para malaikat bertanya lagi “Ya Rabbi, adakah sesuatu alam penciptaan-Mu yang lebih kuat daripada besi?”

Allah yang Maha Suci menjawab, “Ada, yaitu api” (besi walau sekeras manapun boleh menjadi cair dan hancur setelah dibakar api),

Para malaikat kembali bertanya “Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat daripada api?”

Allah yang Maha Agung menjawab, “Ada, yaitu air” (api membara sedahsyat apa pun niscaya akan padam jika disiram air),

Para malaikat pun bertanya kembali “Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat daripada air?”

Allah yang Maha Tinggi dan Maha Sempurna menjawab, “Ada, yaitu angin” (air di samudera yang luas akan serta merta terangkat, bergulung-gulung dan menjelma menjadi gelombang raksasa yang dahsyat, tiada lain kerana kekuatan angin. Angin ternyata memiliki kekuatan yang teramat dahsyat),

Akhirnya para malaikat pun bertanya lagi “Ya Allah, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih dahsyat dari itu semua?”

Allah yang Maha Gagah dan Maha Dahsyat kehebatannya menjawab, “Ada, yaitu amal anak  Adam yang mengeluarkan sedekah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahuinya”.

Artinya, yang paling hebat, paling kuat dan paling dahsyat sebenarnya adalah orang yang bersedekah tetapi tetap mampu menguasai dirinya, sehingga sedekah  yang  dilakukannya  bersih,  tulus  dan  ikhlas  tanpa  ada  unsur menunjuk-nunjuk ataupun supaya diketahui orang lain .

Berkaitan dengan ikhlas ini, RasulAllah SAW mengingatkan dalam pidatonya ketika beliau sampai di Madinah pada waktu hijrah dari Makkah : “Wahai segenap manusia! Sesungguhnya amal itu tergantung kepada niat, dan seseorang akan mendapatkan (pahala) sesuai dengan apa yang diniatkannya”.

Oleh karena itu hendaknya kita selalu mengiringi sedekah kita dengan niat yang ikhlas hanya kerana Allah semata, tanpa berasa ingin dipuji, dianggap dermawan,  dihormati, dll yang dapat menjadikan sedekah kita menjadi sia-sia.


Ganjaran bersedekah

RasulAllah  Shollallahu  Alaihi  Wa Sallam menganjurkan kepada kita umatnya untuk  memperbanyak  sedekah,  hal  itu  dimaksudkan agar rezeki yang Allah berikan kepada kita menjadi bertambah berkah.

Allah  memberikan jaminan kemudahan bagi orang yang berdekah, ganjaran yang berlipatganda  (700  kali)  dan  sebagai  ganti, sebagaimana firman-Nya dan sabda RasuluAllah SAW, sbb :

Allah  Ta’ala berfirman, ” Adapun orang yang memberikan (hartanya  di  jalan Allah) dan bertaqwa dan membenarkan adanya pahala yang terbaik  (syurga)  maka  Kami  kelak  akan menyiapkan baginya jalan yang mudah “.
{Qs. Al Lail (92) : 5-8}

Allah  Ta’ala  berfirman,  “Perumpamaan ( nafkah yang dikeluarkan  oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa  dengan  sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir  seratus  biji.  Allah  melipatgandakan  (ganjaran)  bagi  siapa yang Dia  kehendaki  .  Dan  Allah  maha luas (kurnia-Nya) lagi maha mengetahui” .
{Qs. Al Baqarah (2) : 261}

RasulAllah  SAW  bersabda,  “Setiap  awal  pagi,  semasa terbit matahari,  ada  dua  malaikat  menyeru  kepada manusia dibumi. Yang satu  menyeru,  “Ya Tuhan, kurniakanlah ganti kepada orang yang membelanjakan hartanya  kepada  Allah “.  Yang satu lagi menyeru “musnahkanlah orang  yang menahan hartanya”.


Tolak Bala dengan Sedekah

Orang-orang yang beriman sangat sedar dengan kekuatan sedekah untuk menolak bala,  kesulitan  dan berbagai macam penyakit, sebagaimana sabda RasulAllah SAW , sbb :

“Bersegeralah  bersedekah,  sebab  yang namanya bala tidak pernah  mendahului sedekah “.

“Belilah  semua  kesulitanmu  dengan sedekah”
“Obatilah penyakitmu  dengan sedekah” .

Banyak  dari  kita  yang  sudah  mengetahui  dan  memahami  perihal anjuran bersedekah  ini,  namun  persoalannya  seringkali  kita teramat susah untuk
melakukannya  kerana  kekhuatiran bahawa kita salah memberi, sebagai contoh kadang  kala  kita  enggan  memberi sedekah kepada pengemis yang kita temui ditepi   jalan   dengan   anggapan  bahawa  mereka  (pengemis/peminta  tsb) menjadikan meminta-minta   sebagai   pekerjaannya,  malas,  dll.  Padahal sesungguhnya  prasangka  kita  yang demikian adalah bisikan-bisikan syaitan laknatullah  yang  tidak  rela  melihat  kita  berbuat  baik  (bersedekah), sebaiknya  mulai saat ini hendaknya kita hilangkan prasangka-prasangka yang demikian  kerana seharusnya sedekah itu kita niatkan sebagai bukti keimanan kita  atas  perintah  Allah  dan  rasul-Nya yang menganjurkan umatnya untuk selalu bersedekah, masalah  mungkin  timbul  apabila  ternyata kemudiannya bahawa sedekah yang kita  beri  kepada  pengemis/peminta tadi  tidak tepat sasaran, bukan lagi urusan  kita, kerana sedekah hakikatnya adalah ladang amal bagi hamba-hamba Allah  yang  bertakwa.  Pengemis/peminta/fakir miskin lainnya adalah ladang amal bagi orang yang berkemampuan, dapat kita bayangkan andaikata tidak ada lagi   orang-orang   tersebut,   kepada   siapa  lagi  kita  dapat  beramal (bersedekah) ???

Atau  kalau  kita  termasuk  orang  yang tidak suka memberi sedekah (kepada pengemis/peminta/fakir miskin) dengan berbagai alasan dan pertimbangan maka biasakanlah bersedekah  dengan  menyiapkan  sejumlah  wang  sebelum sholat Jum’at  dan  memasukkan ke kotak-kotak sumbangan yang tersedia dan biasakan dengan  memberi  sejumlah  minima  setiap  Jum’at, misalnya Jum’at ini kita menyumbang RM5 kekotak amal tersebut maka sebaiknya Jum’at berikutnya harus dengan   jumlah  yang  sama,  syukur  jika  boleh  diberi  lebih  dan yang terpentingnya harus diiringi dengan keikhlasan.

Sedekah  anda,  walaupun  kecil  tetapi  amat berharga disisi Allah Azza Wa Jalla.  Orang  yang  bakhil dan kikir dengan tidak menyedekahkan sebahagian hartanya  akan  rugi  didunia dan akhirat kerana tidak mendapat keberkatan.

Jadi,  sebenarnya  orang  yang bersedekah adalah untuk kepentingan dirinya. Sebab menginfakkan (belanjakan) harta akan memperoleh berkah dan sebaliknya
menahannya  adalah  celaka.  Tidak menghairankan jika orang yang bersedekah diibaratkan  orang  yang  melabur (invest) dan menabung disisi Allah dengan jalan meminjamkan pemberiannya kepada Allah. Balasan yang akan diperolehnya berlipat ganda.  Mereka  tidak  akan  rugi  meskipun  pada  awalnya  mereka kehilangan sesuatu.

Sedekah yg pahalanya terus mengalir

Dari  Abu  Hurairah RA, bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW, telah bersabda :
“Bila  seorang hamba telah meninggal, segala amalnya terputus, kecuali tiga hal   :
amal   jariyah,  ilmu  yang  bermanfaat  atau  anak  shalih  yang mendo’akannya”
(HR. Bukhari, dalam Adabul Mufrad).

Berikut  contoh  konkrit,  sadaqah  (amal)  jariah,  yang  pahalanya  terus mengalir walaupun si pemberi sadaqah telah wafat :

http://warmfuzzy.wordpress.com/2006/07/20/sedekah-jariah/

Jadilah   dai   “sejuta  artikel”  dengan  meneruskan  artikel  ini  kepada saudara-saudara  kita  sesama  muslim  yang barangkali belum mengetahuinya, sehingga  kita  tidak  dilaknat  Allah  dan  seluruh  mahluk  kerana  tidak menyampaikan  (menyembunyikan)  apa  yang  telah  kita ketahui, sebagaimana diyatakan dalam Al-Quran surah Al-Baqarah Ayat 159 :

“Sesungguhnya  orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan dari  keterangan-keterangan dan petunjuk hidayat, sesudah Kami terangkannya kepada  manusia  di  dalam  Kitab  Suci, mereka itu dilaknat oleh Allah dan dilaknat oleh sekalian makhluk “.

Dari  Abdullah  bin  ‘Amru  ra,  RasulAllah  S.A.W  bersabda: “Sampaikanlah pesanku walaupun hanya satu ayat”.

Semoga Allah Ta’ala membalas ‘amal Ibadah kita.

Wassalamu’alaikum  warahmatullaahi wabarakatuh.

Sumber : http://warmfuzzy.wordpress.com/2007/08/24/kekuatan-sedekah/

Selasa, 10 November 2009

Suburkan Sedekah

Suburkan Sedekah

Oleh Idris Musa


TANGAN yang memberi lebih mulia daripada tangan yang menerima. Sekecil mana sumbangan yang dihulurkan, ia cukup bermakna kepada si penerima yang hidup serba kekurangan, malah ‘buah tangan’ yang tidak seberapa itu mampu menerbitkan senyuman, walaupun cuma untuk seketika.

Islam sangat menggalakkan umatnya membantu mereka dalam kesempitan. Nas daripada al-Quran dan hadis Nabi s.a.w jelas menganjurkan umat Islam menghidupkan amalan sedekah, karena banyak manfaatnya.

Sedekah adalah perkataan berasal daripada bahasa Arab, yaitu sadaqah yang turut diguna pakai dalam bahasa Malaysia. Maksud yang sama ialah menderma, membelanjakan uang atau memberikan sesuatu kepada pihak lain dengan hati yang ikhlas, tanpa mengharapkan sebuah imbalan.

“Dan belanjakanlah (dermakanlah) sebahagian daripada rezeki yang Kami berikan kepada kamu sebelum seseorang daripada kamu sampai ajal kepadanya, (kalau tidak) maka ia (pada saat itu) akan merayu dengan berkata: Wahai Tuhanku alangkah baiknya kalau engkau lambatkan kedatangan ajal matiku ke suatu masa yang sedikit saja lagi, supaya aku dapat bersedekah dan dapat pula aku menjadi orang yang soleh.” (al-Munafiquun: 10)

Sedekah umumnya terbagi dua yaitu sedekah wajib (zakat) dan sedekah sunat. Ditekankan di sini ialah sedekah sunat dipandang ringan setengah pihak, tetapi sebenarnya ia memberikan manfaat yang besar, seperti dapat meringankan beban dan penderitaan si penerima, khususnya di kalangan orang fakir, miskin dan anak yatim.

Bagi pemberi sedekah, setidak-tidaknya dengan pemberian itu diharapkan dapat menebus dosanya dan memberikan ketenangan, malah yang lebih utama mendapat ganjaran berkali ganda di sisi Allah, seperti dijelaskan Allah pada ayat 261, surah al-Baqarah, bermaksud:

“Bandingan (pemberian) orang yang membelanjakan har tanya pada jalan Allah, sama seperti sebiji benih yang tumbuh mengeluarkan tujuh tangkai, tiap-tiap tangkai itu pula me ngandungi seratus biji. Dan (ingatlah), Allah akan me lipatgandakan pahala bagi sesiapa yang dikehendaki-Nya dan Allah Maha Luas (rahmat) kurnia-Nya, lagi meliputi ilmu pengetahuan-Nya.” (al-Baqarah:261)

Amalan bersedekah daripada satu sudut menggambarkan sifat insani, kemurahan hati dan keluhuran budi seorang manusia.

Tidaklah dikatakan seseorang manusia itu kaya perike manusiaannya jika tiada di dalam jiwanya sikap prihatin dan kasihan belas kepada sesama manusia, yang menggerakkan hatinya untuk memberikan pertolongan sekadar kemam puannya.

Cuma disebabkan golongan fakir miskin tidak menzahirkan keperluannya, atas alasan segan, perasaan rendah diri dan ingin menjaga maruah, membuatkan sesetengah pihak me nyangka tiada pihak yang berada dalam kesempitan.

Malah, dengan kefahaman samar sesetengah pihak yang kerap membuat tafsiran dan andaian sendiri terhadap takrif fakir serta miskin, ia sedikit sebanyak menjejaskan amalan bersedekah, kerana apabila disangka tidak ada yang layak untuk menerima sumbangan, tiadalah amalan sedekah.

Ini belum lagi termasuk sifat keakuan individu tertentu yang mendakwa harta diperolehnya adalah miliknya seorang, kerana beralasan dia yang bersusah payah bekerja siang dan malam. Tetapi hakikatnya, harta terbabit adalah kurniaan daripada yang Maha Kaya melaluinya dan ia berupa pinjaman untuk dikongsi sebagai bekal di dunia.

Jika menurut penjelasan Imam Syafie Rahimahullah ‘Orang fakir ialah orang yang tidak berharta dan tidak ada mata pencarian (sumber rezeki), manakala orang miskin pula ialah orang yang ada harta (ala kadarnya) atau ada mata pencarian tetapi tidak mencukupi sara hidupnya’.

Baginda Rasulullah s.a.w menerangkan golongan yang dikatakan fakir miskin, seperti dalam satu hadis daripada Abu Hurairah r.a, maksudnya:

“Orang fakir miskin (yang sangat menderita) bukanlah orang yang (menadah tangan) meminta-minta ke sana ke mari kepada orang ramai, yang apabila ia mendapat satu atau dua suap makanan atau mendapat sebiji atau dua biji buah kurma – ia akan pergi ke tempat lain meminta lagi. Se benarnya orang fakir miskin (yang sangat-sangat menderita) itu ialah orang yang tidak mempunyai sesuatu yang men cukupi sara hidupnya. Dan ia pula malu hendak meminta bantuan kepada orang ramai dan orang ramai pula tidak mengetahui keadaan penderitaannya untuk diberi bantuan.” (Hadis sahih, riwayat Imam Ahmad).

Justru, menjadi tanggungjawab kepada penderma atau pihak berkenaan untuk mengenal pasti orang fakir dan miskin terlebih dulu bagi memastikan sumbangan amal yang diberikan kena pada sasarannya, sekali gus mencapai mat lamatnya iaitu meringankan mereka yang kesempitan.

Pada zaman modern ini, antara kaedah yang diguna pakai bagi melakukan penilaian terhadap golongan fakir dan miskin ialah pendapatan isi rumahnya dan ia berbeza mengikut lokasi, di kota dan desa kadarnya adalah berlainan, kerana kos hidup di kota lebih tinggi berbanding di kampung.

Bagi Malaysia, sebuah negara dihuni masyarakat majmuk, berbilang bangsa dan budaya, dengan penduduk Muslim berkongsi hidup bersama bukan Muslim, kemiskinan bukan hanya membabitkan orang Islam, malah ada antaranya di kalangan bukan Muslim.

Dalam situasi ini, apakah orang Islam juga dibenarkan untuk memberikan bantuan atau sumbangan kepada orang fakir dan miskin di kalangan bukan Muslim, terutama di kalangan sahabat handai dan mereka yang tinggal berjiran?

Seorang cendekiawan Muslim, Sheikh Ahmad Kutty, dipetik sebagai berkata: “Islam menggalakkan pemberian sedekah kepada semua manusia, tanpa mengira perbezaan agama, kaum, warna atau bahasa.”

Menurutnya, Nabi Muhammad s.a.w ada membantu orang bukan Muslim (jahiliah) di kalangan yang menentangnya dan mereka tidak menghalangnya untuk memberikan bantuan dalam memenuhi keperluan yang mendesak.

“Mereka juga memberi makan benda makanan yang dihajati dan disukainya, kepada orang miskin dan anak yatim serta orang tawanan.

“Sesungguhnya kami memberi makan kepadamu kerana Allah semata-mata. Kami tidak menghendaki sebarang ba lasan darimu atau ucapan terima kasih.” (al-Insaan:8-9)

Beliau berkhidmat sebagai pensyarah kanan Institut Islam Toronto, Ontario, Kanada, menjelaskan, orang Islam ber tanggungjawab untuk memberikan bantuan kepada jiran atau rakan di kalangan bukan Muslim.

Katanya, Nabi s.a.w ada bersabda, maksudnya: “Sekiranya seseorang tidur dengan perut kosong, jaminan perlindungan Allah akan jauh daripadanya.”

“Jadi, mari kita sama-sama menentang kemiskinan dan membantu mereka yang memerlukan bantuan tanpa mengira perbedaan agama, kaum atau etnik, warna kulit atau bahasa.

“Semoga Allah memasukkan kita di kalangan mereka yang digambarkan Nabi s.a.w, umat yang terbaik ialah mereka suka menolong hamba Allah,” katanya.

Cuma, menurut fatwa yang pernah dikeluarkan negeri Johor hendaklah didahulukan bersedekah kepada saudara di ka langan orang Islam sebelum bersedekah kepada orang bukan Islam.

Alangkah indah Islam sebagai agama universal, yang mem berikan manfaat kepada semua pihak termasuk bukan Islam, sekali gus mencerminkan keluhuran budi umat Islam itu sendiri.

“Allah tidak melarang kamu daripada berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang yang tidak memerangi kamu kerana agamamu, dan tidak mengeluarkan kamu dari kam pung halaman kamu; sesungguhnya Allah mengasihi orang yang berlaku adil.

Sesungguhnya Allah hanyalah melarang kamu daripada menjadikan teman rapat orang yang memerangi kamu kerana agama (kamu), dan mengeluarkan kamu dari kampung halamanmu, serta mereka membantu (orang lain) untuk mengusir kamu. Dan (ingatlah) sesiapa yang menjadikan mereka teman rapat, maka mereka itulah orang yang zalim.” (al-Mumtahanah:8-9)

sumber : http://nurjeehan.hadithuna.com/2008/09/suburkan-sedekah/

Selasa, 03 November 2009

Keutamaan Sedekah

Harta yang menjadi milik manusia sebenarnya ada 3 macam, yaitu makanan atau minuman yang ia makan atau minum sampai habis, pakaian yang ia pakai hingga lusuh atau rusak, dan apa yang ia sedekahkan.
Makanan dan minuman yang habis diminum atau dimakan sudah pasti menjadi miliknya, karena ia telah menikmatinya dan telah menjadi darah dagingnya. Tetapi makanan dan minuman yang masih tersisa belum tentu menjadi miliknya. Bisa saja ia menyisakan dan menaruhnya di suatu tempat, tetapi siapa tahu kalau itu justru akan menjadi santapan yang lezat bagi orang lain atau makhluk lain seperti semut, kucing dan tikus.
Begitu pula dengan pakaian, termasuk kendaraan dan yang sejenisnya, yang ia kenakan sampai lusuh dan rusak, sudah jelas kepuasan yang ia peroleh darinya. Tetapi pakaian yang masih baik dan bagus belum tentu menjadi miliknya, dan mungkin saja tak dapat ia nikmati, karena hilang, rusak atau ternoda sebelum sempat dipakai.

Harta yang dimiliki pun demikian. Harta yang habis disedekahkan akan menjadi milik manusia, sedangkan yang tersisa belum tentu menjadi miliknya. Karena mungkin saja harta itu akan musnah sebelum sempat dinikmati, baik karena bangkrut, dicuri orang, terbakar, atau ada sebab lain yang mempercepat kemusnahannya. Bahkan, ketika ajal telah menjemputnya, bisa saja harta miliknya akan menjadi rebutan para ahli warisnya. Beruntung kalau ahli warisnya adalah anak-anak yang saleh dan salehah, tetapi kalau taleh dan talehah? Akan sia-sia harta itu!

Pada suatu hari, ketika telah menyembelih seekor kambing, Rasulullah memerintahkan istri beliau, Aisyah, untuk memasak daging kambing itu dan membagikannya kepada para tetangga. Kemudian, setelah beberapa lama, beliau bertanya kepada Aisyah:

“Apakah telah Kaubagikan daging kambing itu kepada para tetangga?”

Aisyah menjawab:

“Sudah, ya Rasul. Tinggal pahanya saja!”

Beliau berkata:

“Aisyah, pahanya yang habis, sedangkan yang tinggal adalah yang telah Kaubagikan!”

Maksud Nabi, justru harta yang telah disedekahkan itulah yang sebenarnya menjadi milik manusia, karena ia akan memperoleh pahalanya nanti di akhirat. Sedangkan harta yang diper-gunakan manusia untuk dirinya sendiri akan habis begitu saja. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat an-Nahl ayat 96:

mā `indakum yanfadu wa mā `indallāhi bāq wa lanajziyannal lazīna shabarū ajrahum bi’ahsani mā kānū ya`malūn.

“Apa yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan.”

Ayat ini menjelaskan bahwa harta dunia yang kita miliki ini tidak kekal, ada batas waktu di mana ia akan lenyap dan musnah. Sedangkan jika kita sedekahkan dan kita amalkan di jalan yang diridai Allah, maka kita akan memperoleh pahala dari Allah, dan pahala itu akan kekal abadi di sisi Allah. Orang yang sabar dalam memenuhi janjinya kepada Allah, yaitu menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, akan diberi pahala yang lebih baik daripada apa yang ia lakukan itu.

Sedekah bukan hanya menghasilkan manfaat ukhrawi, berupa pahala di akhirat, tetapi juga banyak manfaat duniawinya, baik bagi orang-orang yang menerimanya maupun bagi orang-orang yang memberikannya. Bagi penerima, yang biasanya adalah fakir miskin atau kelompok du`afa’, harta sedekah itu akan sangat berarti dalam mengatasi beban ekonomi yang menghimpit mereka dari waktu ke waktu. Sedangkan bagi pemberi, sedekah akan menjadi senjata yang ampuh dalam mengikis sifat-sifat negatif yang ada di dalam dirinya.

Dalam sebuah hadis riwayat Imam at-Turmudzi dan Ahmad, dikisahkan bahwa pada saat Allah menciptakan bumi, bumi bergetar. Lalu Allah ciptakan gunung. Berkat kekuatan yang telah diberikan Allah kepada gunung, ternyata bumi pun terdiam. Karena merasa heran menyaksikan penciptaan gunung tersebut, para Malaikat bertanya: "Wahai Tuhan Kami, apakah ada ciptaan-Mu yang lain yang lebih kuat daripada gunung?" Allah menjawab: "Ada, yaitu besi!" Mereka bertanya lagi: "Wahai Tuhan Kami, apakah ada ciptaan-Mu yang lain yang lebih kuat daripada besi?" Allah menjawab: "Ada, yaitu api!" Kemudian mereka bertanya lagi: "Wahai Tuhan Kami, apakah ada ciptaan-Mu yang lain yang lebih kuat daripada api?" Allah menjawab: "Ada, yaitu air!" Para Malaikat kembali bertanya: "Wahai Tuhan Kami, apakah ada ciptaan-Mu yang lain yang lebih kuat daripada air?" “Ada, yaitu angin!” Jawab Allah. Mereka bertanya lagi: "Wahai Tuhan Kami, apakah ada ciptaan-Mu yang lain yang lebih kuat daripada itu semua?" Allah menjawab: "Ada, yaitu amal anak Adam, yang tangan kanannya mengeluarkan sedekah sedangkan tangan kirinya tidak tahu!”

Hadis ini menjelaskan bahwa sedekah yang dikeluarkan dengan penuh keikhlasan, yang diumpamakan Nabi dengan “tangan kanannya mengeluarkan sedekah sedangkan tangan kirinya tidak tahu”, mempunyai kekuatan yang sangat dahsyat. Kedahsyatan sedekah ini bukan hanya mampu mengalahkan kekuatan yang ada pada gunung, besi, api, air dan angin, sebagaimana yang ditamsilkan Nabi, tetapi juga sifat-sifat negatif seperti kikir, tamak, angkuh, ria, gila pujian dan lain-lain. Dalam kehidupan sehari-hari, sifat-sifat ini merupakan faktor penghambat bagi manusia dalam berbuat kebaikan, terutama dalam membantu sesama manusia, khususnya fuqara’ dan masakin serta kelompok dhu`afa lainnya. Bahkan, sedekah yang dikeluarkan dengan ikhlas dapat menyebabkan pemberinya mendapat pertolongan Allah di dunia, berupa keselamatan dari segala musibah. Perhatikanlah sabda Nabi berikut ini:

“Janganlah sekali-kali Anda memandang rendah suatu kebajikan yang Anda lakukan walau sekecil apa pun, walaupun sekadar berwajah manis saat bertemu dengan saudaramu. Keluarkanlah sedekah setiap hari, walau-pun sedikit, dan jadikanlah sedekah itu pada pagi hari, karena sesungguhnya bala (musibah) tidak akan menyusuli sedekah.”

Maksudnya, sebelum melaksanakan aktivitas harian, Nabi menganjurkan agar kita bersedekah, apa pun bentuk sedekah itu dan berapa pun banyaknya, walaupun hanya sekadar menebarkan senyum kepada sesama. Hal ini dilakukan dalam rangka membentengi diri kita dari bala atau musibah yang mungkin datang kepada kita pada hari itu.

Sebagai penutup, saya mengajak para pembaca, termasuk diri saya, marilah kita syukuri nikmat yang telah diberikan oleh Allah kepada kita dengan cara banyak bersedekah, sebelum ajal menjemput kita. Perhatikanlah firman Allah dalam surat al-Munafiqun, (63: 10):

“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: ”Ya, Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)-ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shaleh.?

posted : markunajja.blogspot.com
sumber : http://ahza.multiply.com/journal/item/1